AJAKLAH KEPALA BERPIKIR TENTANG AKHIRAT: AGAR DUNIA TIDAK MENYITA SEGALANYA
Kita bisa memikirkan banyak hal dalam hidup ini pekerjaan, pendidikan anak, tagihan rumah, rencana liburan, bahkan isi keranjang belanjaan.
Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang paling berharga akan tetapi sering terlupa: memikirkan agama. Mengapa demikian?
Jika kepala tidak diajak berpikir tentang Allah ﷻ, ia akan disibukkan memikirkan selain-Nya hal-hal yang fana, sementara, dan kadang melalaikan.
*01 – MENGAPA HARUS MEMIKIRKAN AGAMA?*
Manusia adalah makhluk berpikir. Namun sayangnya, tidak semua pikiran mengarah pada hal yang benar. Pikiran yang tidak diarahkan kepada iman, akan terseret oleh arus dunia.
Padahal, Allah ﷻ memerintahkan kita untuk berpikir tentang kehidupan dan kematian, bukan sekadar tentang kenyamanan hidup.
"Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS Al-Mu'minūn, 23:115)
Ayat ini seakan menegur setiap orang yang tenggelam dalam rutinitas dunia tanpa merenungi tujuan akhir hidupnya. Sebab, cepat atau lambat, semua akan berakhir pada satu kata: kematian.
Maka, kepala ini pusat seluruh keputusan dan arah hidup harus diajak memikirkan agama. Bagaimana caranya? Dengan merenungi aneka pertanyaan sederhana tetapi mengguncang hati.
* "Apakah kematianku husnul khatimah atau su'ul khatimah?"
* "Siapa yang akan memberi syafaat kepadaku kelak di hadapan Allah ﷻ?"
* "Amalku yang mana yang akan menolongku di alam kubur?" dan lainnya.
Setiap pertanyaan ini bukan sekadar renungan kosong. Ia adalah cara untuk menyadarkan akal agar berfokus pada arah pulang.
*02 – SAAT KEPALA KOSONG DARI AGAMA*
Ketika kepala tidak diajak memikirkan agama, ia akan dipenuhi urusan dunia. Dari pagi hingga malam, pikirannya dipenuhi angka, ambisi, dan aneka kekhawatiran.
Akibatnya, hati mengeras dan hidup kehilangan makna. Hal inilah yang sangat Nabi ﷺ khawatirkan. "Siapa (menjadikan) dunia tujuan utamanya, niscaya Allah cerai-beraikan urusannya
Dan, menjadikan kefakiran di depan matanya, serta dunia tidak datang kepadanya kecuali sebatas apa yang telah ditetapkan baginya …" (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya)
Inilah penyakit zaman modern ketika pikiran hanya berputar di sekitar materi: pekerjaan, gaji, gaya hidup, status sosial. Kita terperangkap dalam budaya flexing, sibuk memamerkan yang fana, tapi lupa mempersiapkan yang kekal.
*03 – MEMIKIRKAN AGAMA = MEMIKIRKAN MASA DEPAN*
Agama mengajak kepala untuk berpikir jauh ke depan, pada kehidupan tidak berujung. Itu mengapa, Allah ﷻ menurunkan banyak ayat yang menggugah kesadaran manusia agar berpikir tentang akhirat.
Salah satunya adalah surat An-Naba', surat yang sejak ayat pertama sudah mengajak manusia berpikir:
"Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar (An-Naba'), yaitu tentang hari kebangkitan." (QS An-Naba', 78:1–2)
Seluruh isi surat ini adalah seruan agar manusia berpikir serius tentang kematian dan kebangkitan.
Maka, Syeikh Muhammad Abduh ketika mengajar tafsir, memulainya dari Juz 'Amma, dari bagian akhir Al-Quran, agar muridnya mampu merenungi akhir kehidupan sebelum membahas yang lainnya.
Karena, menurut beliau, seseorang tidak akan benar-benar hidup dengan tenang sebelum ia siap menghadapi kematian.
*04 – MENGEMBALIKAN FOKUS DI TENGAH BISINGNYA DUNIA*
Kita hidup di era ketika kepala mudah diseret oleh dunia. Setiap detik kita disuguhi iklan gaya hidup, hiburan tak berujung, dan sejenisnya. Semakin banyak yang kita lihat, semakin sedikit waktu kita untuk mengingat Allah ﷻ.
Maka, hadirlah kembali pada inti: memikirkan agama berarti memikirkan arah hidup. Luangkan waktu sejenak setiap hari untuk bertanya kepada diri sendiri:
* "Apakah hari ini aku sudah menyiapkan bekal untuk mati?"
* "Apakah amal yang aku lakukan hari ini bisa menolongku kelak?"
Inilah cara terbaik menjaga pikiran agar tetap jernih dan hati tetap hidup. Karena, seperti dikatakan ulama salaf, "Siapa banyak mengingat mati, maka ringanlah baginya dunia dan lembutlah hatinya."
*05 – AGAR KEPALA TIDAK SALAH ARAH*
Tidak salah kita memikirkan dunia — selama tidak melupakan akhirat. Karena, dunia adalah ladang dan kepala adalah alat bajaknya. Maka, arahkan ia untuk menanam amal, bukan menumpuk angan.
"Siapa menjadikan akhirat tujuannya, niscaya Allah akan membereskan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan terhina." (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya)
Maka, biasakanlah kepala kita berpikir tentang agama tentang shalat yang belum khusyuk, tentang dosa yang belum ditaubati, tentang akhir hidup yang belum tentu selamat.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang berapa lama kita berpikir, akan tetapi tentang apa yang kita pikirkan.
No comments:
Post a Comment