PESAN TERAKHIR DI BULAN RAMADHAN
Namanya Dimas.
Ia jarang shalat tepat waktu.
Puasa pun kadang bolong.
Tapi setiap Ramadhan, ibunya selalu berkata:
“Nak… jangan sia-siakan bulan ini.”
Dimas hanya tersenyum.
Mengangguk tanpa benar-benar mendengar.
Setiap sahur, ibunya membangunkannya.
“Nak, bangun… sahur itu berkah.”
Setiap malam, ibunya bertanya:
“Sudah tarawih?”
Dimas sering menjawab,
“Nanti, Bu…”
Selalu nanti.
Ibunya sakit.
Tidak berat, hanya lemas.
Namun malam itu, ibunya tetap duduk di sajadah lebih lama dari biasanya.
Ia menangis dalam doa.
“Ya Allah… kalau aku tidak sempat melihat anakku berubah… Engkau yang jaga dia…”
Dimas tidak tahu doa itu.
Ia sedang tertawa bersama teman-temannya.
Beberapa hari kemudian, ibunya wafat mendadak.
Rumah terasa kosong.
Di kamar ibunya, Dimas menemukan secarik kertas di dalam Al-Qur’an.
Tulisan tangan ibunya:
“Kalau Ibu sudah tidak ada… jangan tinggalkan shalatmu.
Jangan sia-siakan Ramadhanmu.
Ibu ingin bertemu kamu lagi di surga.”
Tangan Dimas gemetar.
Air matanya jatuh di atas tulisan itu.
Ia sadar…
Pesan itu bukan untuk nanti.
Pesan itu untuk sekarang.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Dimas berdiri di saf depan.
Ia tarawih dengan mata basah.
Dalam sujudnya ia berkata,
“Ya Allah… ampuni aku…
dan pertemukan aku dengan Ibu dalam keadaan Engkau ridha.”
Ramadhan tahun itu menjadi titik baliknya.
Bukan karena ceramah.
Bukan karena teman.
Tapi karena pesan terakhir seorang ibu.
Kita sering menganggap nasihat orang tua biasa saja.
Sampai suatu hari…
kita hanya bisa membacanya kembali.
Ramadhan bukan hanya bulan ampunan.
Ia juga kesempatan membahagiakan orang tua.
Jika mereka masih hidup…
taatilah.
Jika mereka sudah tiada…
jadilah anak yang membuat mereka tersenyum di alam sana.
Karena mungkin…
pesan terakhir itu
adalah penyelamat kita.

No comments:
Post a Comment