Artinya: “Katakanlah (Muhammad), Jika negeri akhirat di sisi Allah, khusus untukmu saja bukan untuk orang lain, maka mintalah kematian jika kamu orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 94)
Dalam riwayat Imam Thabbrani dari Abu Aliyah, beliau berkata, “Kaum Yahudi berkata: “Tidak akan masuk surga, kecuali orang-orang yang beragama Yahudi.” Maka turunlah ayat di atas sebagai tanda bahwa seorang muslim yang sholeh sekalipun tidak akan merasa yakin akan masuk syurga, karena ada khauf dan raja’.
Lantas apakah sebenarnya khauf dan raja’? Mengapa keduanya bisa menjadi kunci kebahagiaan Muslim sejati? Mari kita bahas!
Khauf secara bahasa lawan dari kata al-amnu (rasa aman), yang berarti khauf adalah rasa takut. Secara istilah khauf adalah perasaan takut terhadap keadaan atau siksa yang diakibatkan oleh perbuatan dosa dan maksiat.
Raja’ secara bahasa adalah berharap. Secara istilah raja’ adalah pengharapan yang teramat dalam kepada surga dan berbagai kenikmatan didalamnya. Kedua sifat ini, baik khauf dan raja memiliki hubungan yang erat dan harus dimiliki oleh seorang Muslim.
Khauf dan raja’ jika tidak diimbangi dengan baik, bisa berdampak negatif pada kehidupan seorang Muslim. Maka dari itu, penting sekali menyeimbangkan sifat khauf dan raja’ untuk mencapai kebahagiaan sejati seorang Muslim.
Mengapa Harus Memiliki Sifat Khauf?
Khauf adalah rasa takut yang wajar dimiliki oleh seorang Muslim. Rasa takut ini muncul dari kesadaran akan kebesaran dan keagungan Allah SWT, serta pengetahuan tentang hari akhir dan hari perhitungan amal perbuatan.
Khauf dapat mendorong seorang Muslim untuk menjauhi larangan Allah SWT dan memperbanyak amal shaleh. Namun, perlu juga diketahui bahwa khauf yang berlebihan bisa berdampak kurang baik dalam hidup.
Seseorang yang dikuasai oleh rasa takut yang berlebihan akan Allah SWT bisa menjadikannya tertekan, cemas, dan putus asa terhadap rahmat Allah SWT. Hal ini bisa berujung pada kelalaian beribadah karena takut tidak diterima amal perbuatannya.
“Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 112)
Pentingnya Memiliki Sifat Raja’
Raja’ adalah perasaan harap yang diiringi dengan usaha dan keyakinan. Seorang Muslim yang memiliki sifat raja’ akan senantiasa berharap kepada rahmat dan ampunan Allah SWT.
Orang yang memiliki sifat raja’ yakin bahwa Allah SWT Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan selalu membuka pintu taubat bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Raja’ dapat mendorong seorang Muslim untuk beribadah dengan penuh semangat dan senantiasa berbaik sangka.
Namun, sama halnya seperti khauf, raja’ yang berlebihan juga bisa berdampak kurang baik. Seseorang yang hanya berharap rahmat Allah SWT tanpa disertai usaha dan amal shaleh, akan terjebak dalam sikap takabur dan terlena.
Orang yang terbuai dengan sifat raja’ bisa menjadi lalai beribadah dengan anggapan bahwa Allah SWT akan selalu mengampuni dosa-dosanya. Oleh karena itu, sifat raja’ juga perlu dikontrol dengan menghadirkan sifat khauf.
Menyeimbangkan Khauf dan Raja’
Islam menganjurkan umatnya untuk menyeimbangkan antara khauf dan raja’. Keduanya harus berjalan beriringan untuk mencapai kebahagiaan sejati. Untuk itu, ada beberapa hal yang dapat Sahabat Zakat lakukan untuk menyeimbangkan keduanya. Berikut ini adalah beberapa cara untuk menyeimbangkan khauf dan raja’.
- Mengingat Sifat-Sifat Allah SWT
Sahabat Zakat dapat mempelajari dan merenungkan sifat-sifat Allah SWT, seperti Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Hal ini dapat menumbuhkan rasa optimisme terhadap rahmat Allah SWT.
- Membaca Kisah Para Nabi dan Orang Saleh
Kisah para nabi dan orang saleh yang diampuni dosanya oleh Allah SWT bisa menjadi motivasi dan pengingat akan luasnya rahmat Allah SWT. Sahabat Zakat bisa membaca kisah tentang Umar bin Khattab, Abu Dzar Al Ghifari, Utsman bin Affan, dan Sahabat lainnya.
- Merenungkan Ayat Al-Quran dan Hadist
Dalam Al-Quran dan Hadits terdapat banyak hikmah yang menjelaskan tentang ampunan Allah SWT. Hal ini akan memperkuat keyakinan kita terhadap rahmat Allah SWT.
- Tidak Meremehkan Dosa Kecil
Meskipun Allah SWT Maha Pengampun, dosa kecil yang terus menerus dilakukan dapat berakibat hilangnya rahmat dari Allah dan memicu munculnya murka Allah SWT. Maka, memperbanyak istighfar dan menghindari dosa-dosa kecil menjadi salah satu jalan yang harus dilakukan.
- Menjaga Ibadah Wajib dan Meningkatkan yang Sunnah
Saran terakhir yang selayaknya kita lakukan adalah melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan meningkatkan yang sunnah. Laksanakan ibadah dengan penuh semangat dan berbaik sangka kepada Allah SWT, seraya yakin bahwa Allah SWT akan melihat usaha dan keikhlasan hamba-Nya.
Dengan menyeimbangkan khauf dan raja’, seorang muslim akan menjalani kehidupan dengan penuh rasa takut dan harap kepada Allah SWT. Kita akan terhindar dari sikap putus asa dan takabur, serta senantiasa bersemangat dalam beribadah dan menjalankan kehidupan sesuai ajaran Islam. Hal ini adalah jalan menuju kebahagiaan sejati sebagai seorang muslim.
Selain menyeimbangkan sifat khauf dan raja’ Rasulullah juga menganjurkan kepada kita untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat dengan berbagi kepada sesama. Saat ini, saudara kita yang ada di Palestina sedang mengalami krisis pangan, tempat tinggal, pakaian, dan kesehatan.
Sumber :https://zakatsukses.org/menyeimbangkan-khauf-dan-raja-rahasia-kebahagiaan-muslim-sejati/

No comments:
Post a Comment